logo

Syahru Sayyidu Syuhur | Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ditulis oleh alifudin on .

Ditulis oleh alifudin on . Dilihat: 1849

Syahru Sayyidu Syuhur

oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

 

             Pada tulisan sebelumnya telah dibicarakan nama lain Ramadan yaitu Syahrul Qur'an. Kali ini kita akan membahas Sayyidu Syuhur.       

            Nabi pernah memberikan gambaran tentang kemuliaan Ramadhan. Bahkan Nabi saw menyebut bulan Ramadhan dengan julukan sayyidu syuhur sama seperti Nabi saw menyeut hari Jumat sebagai sayyidul ayyam. Nabi memberikan julukan Ramadan dengan sayyidu syuhur tentu pada bulan tersebut mengandung arti dan ada peristiwa yang sangat penting.

           Peristiwa tersebut antara lain adalah:

  1. Bulan diwajibkannya ibadah puasa.

             Bulan Ramadan adalah Bulan yg di dalamnya diwajibkan melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh bagi orang-orang yang beriman. Hal ini yang termaktub dalam  Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya sebagai berikut: "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" (QS Al Baqarah: 183)

  1. Nuzulul Qur'an

             Inilah peristiwa besar yang pernah terjadi di bulan Ramadhan. Peristiwa turunnya Al-Qur'an tentunya menjadi momen penting bagi Umat Islam. Al-Qur'an merupakan kitab suci Umat Islam yang menjadi pedoman hidup di semua aspek kehidupan.

            Al-Qu'ran diturunkan pertama kali oleh Allah dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia, dan juga dari langit dunia pertama kali diturunkan kepada Rasulullah melalui malaikat Jibril pada bulan Ramadhan, seperti yang dijelaskan pada surat Al-Baqarah ayat 185, yang artinya: "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)..."

           Dalam Kitab At-Tibyan fii Ulumil Qur'an, Karya Syaikh Muhammad Ali As-Shobuni Halaman 14 dijelaskan:

 Awal turunnya Al-Qur'an Al-Karim pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke 40 dari kehidupan Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah sedang beribadah di gua Hira, maka tiba-tiba datang malaikat Jibril dengan membawa ayat-ayat Al-Qur'an, kemudian Jibril mendekap Rasulullah ke dadanya kemudian melepaskannya, hal itu dilakukan Jibril sampai tiga kali, dan disetiap dekapan Jibril memerintahkan Rasulullah untuk membaca Bacalah, dan Rasulullah selalu menjawabnya "aku tidak bisa membaca". Dalam dekapan ketiga, kemudian Jibril membacakan lima ayat dalam surat Al-Alaq kepada Rasulullah.  Proses turunnya Al-Qur'an seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Ali As-Shobuni di halaman 33 dalam kitabnya tersebut dijelaskan melalui dua tahap yang berbeda.

             Pertama: Al Qur'an diturunkan dari Lauhul Mahfud ke langit dunia seketika (lengkap) pada malam Lailatul Qadar. Yang kedua diturunkan dari langit ke bumi (kepada Rasulullah) secara berangsur-angsur selama 23 tahun.

Namun seperti yang dijelaskan, wahyu pertama yang diterima Rasulullah terjadi pada tanggal 17 Ramadhan di gua Hira, selanjutnya wahyu diturunkan juga selain bulan Ramadhan. 

  1. Malam Lailatul Qadr.

           Di bulan Ramadan terdapat suatu malam yang apabila kita beribadah kepadaNya pada malam tersebut, maka kebaikannya lebih baik dari beribadah seribu bulan. Malam tersebut adalah malam Lailatul Qadar. Sudah cukup gamblang dijelaskan di dalam surat Al-Qadr mengenai malam seribu bulan ini.

  1. Perang Badar Kubra

             Disebutkan dalam buku karya Abu Bakr Sirajuddin atau Martin Lings yang berjudul Muhammad, halaman 266, perang ini terjadi pada hari Jum'at 17 Ramadhan 2 Hijriah yang bertepatan dengan tahun 623 M. Penyebab peperangan ini ialah ketika umat Islam meninggalkan harta bendanya di Makkah ke Madinah karena kekejaman kaum kafir yang kemudian oleh kaum kafir Makkah dijarah sedikit dan hendak dijual ke negri Syam. 

            Rasulullah SAW mendapat laporan rombongan dagang kaum Quraisy yang dipimpinan Abu Sufyan bin Harb sebanyak 40 orang pulang berniaga dari negri Syam menuju kota Makkah. Maka 313 tentara Islam mencegat kafilah itu sebelum sampai ke Makkah di dekat sebuah sumur di lembah Badar.

              Mengetahui hal itu Abu Sufyan minta bantuan dari Makkah sebanyak 950 tentara. Jumlah yang timpang tak membuat kaum Muslimin mundur, dengan tekad bulat dan keimanan kuat tetap melawan pasukan Kafir Quraiys yang sangat banyak.

             Peperangan diawali adu tanding perorangan, Ali bin Abi Tholib, Hamzah bin Abdul Mutholib dan Ubaidah bin Harits dari pihak Islam, melawan Walid bin Utbah, Syaibah bin Robi’ah dan Utbah bin Robi’ah dari pihak Quraisy. Akhirnya 3 jagoan Quraisy itu terbunuh. Berkobarlah peperangan dan dimenangkan kaum Muslimin.

              Sebanyak 70 orang terbunuh dari pihak musuh termasuk Abu Jahl bin Hisyam dan 70 orang termasuk sepupu Nabi Uqail bin Abi Tholib menjadi tawanan. Sedangkan dari pihak Islam yang gugur 14 orang termasuk Ubaidah bin Harits. 

  1. Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah)

             Peristiwa ini terjadi pada tanggal 20 Ramadhan tahun 8 Hijriah. Peristiwa ini disebabkan Bani Bakr (sekutu Quraiys) yang cekcok dengan Bani Khuza’ah (sekutu Islam), kemudian kaum kafir Quraisy membantu Bani Bakr untuk menyerang Bani Khuza’ah, 20 orang Khuza’ah mati terbunuh. Hal itu otomatis menjadikan kafir Quraisy melanggar perjanjian gencatan senjata atau yang dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah yang telah dijalin sebelumnya dengan Umat Islam.

            Mendengar hal itu, Rasulullah saw geram dan Rasulullah mengirim 10.000 pasukan berangkat menuju kota Makkah melalui 4 penjuru ke arah kota Makkah. Pasukan Zubair bin Awam melalui jalan utara, pasukan Khalid bin Walid dari jalan selatan, pasukan Sa’ad bin Ubadah dari jalan barat dan pasukan Abu Ubaidah bin Jarrah bersama Rasulullah SAW lewat kaki gunung Hind di barat laut. Maka kaum Muslimin dapat menguasai kota Makkah tanpa ada halangan dan perlawan apapun dari kafir Quraiys. Saat itu mereka telah bersembunyi di rumah-rumah mereka dan juga ada yang berlarian ke bukit-bukit sekitar, karena takut kaum Muslimin membalas dendam atas kejahatan yang pernah mereka perbuat dulu. 

              Kemudian Rasulullah saw menuju Ka’bah dan menghancurkan 360 berhala menggunakan tongkatnya. Sambil membaca firman Allah, dalam surat Al-Isra' ayat 81, yang artinya: “Telah datang kebenaran, telah hancur kebathilan. Sungguh kebathilan telah hancur.”

           Abu Sufyan bertanya kepada Nabi SAW, apa yang akan diperbuatnya terhadap kaum kafir Quraisy? Rasulullah hanya menjawab: “Hari ini adalah hari kasih sayang.” Dan setelah melaksanakan shalat, Rasulullah SAW berkhutbah di depan pintu Ka’bah: “Hai kaum Quraisy, apa yang hendak aku perbuat?” Mereka menjawab “Yang baik-baik, wahai saudara pemurah, dan anak dari yang pemurah.” Maka Rasulullah bersabda : “Aku akan berkata seperti ucapan Yusuf kepada saudaranya, “Hari ini tak ada cercaan bagi kalian. Kalian bebas”.

             Itulah pengampunan terbesar sepanjang sejarah manusia yang diberikan Rasulullah saw terhadap kaum kafir Quraisy yang sebelumnya telah meneror dan membantai umat Islam.

           Dari peristiwa besar yang sangat bersejarah yang terjadi pada bulan Ramadan itulah, Rasulullah saw memberi julukan Ramadan dengan sayyidu syuhur.

 

 Wallahu a'lam bi showab

 Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in

Hubungi Kami

Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

Jl. Tinaloga No.5 Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Utara, Gorontalo

Telp: 0435-8591389 
Fax: 0435-831625

Email : surat@pta-gorontalo.go.id

Hak Cipta Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo © 2022