Bangga
Bangga
oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.
Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo
Terima kasih Marselino Ferdinan! Kalimat itu layak dialamatkan kepadanya tetapi kalimat itu sesungguhnya hanyalah milik Allah, manusia hanya berusaha Tuhan Yang Maha Menentukan. Oleh karena itu kita tidak perlu berlebihan berbangga atas kemenangan kesebelasan Indonesia melawan Arab Saudi.
Kita patut waspada atas prestasi ini, namun jangan sampai kita terjebak pada empat sifat tercela yang selalu menipu dalam diri kita, yaitu ujub, sum'ah, riya dan takabbur.
Pertama 'Ujub
Ujub berasal dari kata ajiba ya'jabu 'ujub artinya heran atau kagum, jadi ujub adalah mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa bahwa diri kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain.
Imam Al Ghozali menuturkan, “Perasaan ' ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Allah”. Dia bangga terhadap dirinya sendiri.
Memang setiap orang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Tetapi siapa yang memberikan kelebihan tersebut?
“Bagi Allah semua kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantaranya.” (Q.S. Al Maidah ayat 120)
Kedua Sum'ah
Kata sum’ah secara bahasa, berasal dari kata sami’a yasma'u sam'an, menjadi sum'ah yang artinya mendengar atau memperdengarkan.
Secara istilah sum’ah adalah sikap seorang muslim memperdengarkan atau membicarakan amal ibadahnya kepada orang lain yang semula tidak ada yang mengetahuinya atau tersembunyi, supaya didengar atau diketahui supaya mendapat pujian, penghargaan atau keuntungan materi.
Dalam hadist Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan sum’ah oleh Allah. Dan barangsiapa berlaku riya makan akan dibalas dengan riya.” (H.R. Bukhari)
Maksud hadist diperlakukan sum’ah oleh Allah yaitu diumumkan aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riya yaitu diperlihatkan amalnya namun tidak diberi pahalanya.
Ketiga riya'
Pengertian riya’ menurut bahasa, berasal dari kata ra'a yaraa ru'yatan, yang artinya melihat atau memperlihatkan.
Secara istilah riya’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan ibadah kepada sesama manusia agar dipuji orang dan tidak diniatkan untuk Allah swt.
Dalam firman Allah ta’ala,
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (Q.S. Al Maa’uun ayat 4-6)
Keempat Takabur
Takabur berasal dari kata takabbara yatakabbaru takaburan, artinya sombong atau menyombongkan diri sendiri.
Takabur artinya menampakkan keagungannya dan kebesarannya dibandingkan dengan orang lain. Takabur berupa kesombongan merupakan sifat syaitan yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Sifat ini paling berbahaya dan dibenci Allah swt.
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong.” (Q.S. An Nahl ayat 23)
“Maka masuklah pintu-pintu neraka jahanam, kamu kekal di dalamnya, maka amat buruklah orang-orang yang menyombongkan diri.” (Q.S. An Naml ayat 29)
Dengan memohon pertolongan Allah, mari sama-sama lihat jauh ke dalam hati kita, masihkah kita dihinggapi empat penyakit hati yang sangat berbahaya ini. Semoga kita mampu tethindari dan membuang jauh-jauh empat sifat tercela ini.
Wallahu a'lam bi showab
Allahumma sholli 'ala sayyiddina Muhammad wa 'ala alihi wa ashha bihi wa sallim ajma'in
