Mengulas Pidato Presiden
Mengulas Pidato Presiden
oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.
Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo
Dari seluruh rangkaian acara pelantikan presiden dan wakil presiden yang paling penting setelah _pengucapan sumpah_ adalah pidato sambutan Presiden Prabowo. Pidato presiden sangat menarik untuk kita cermati dan diulas dalam tulisan ini.
Dalam awal pidatonya presiden mengapresiasi atas kehadiran 19 kepala negara, 19 kepala pemerintahan dan 15 utusan khusus negara-negara sahabat. Tentu hal ini menunjukkan betapa presiden memiliki hubungan baik dengan para pemimpin dunia tersebut.
Presiden menyatakan bahwa pengucapan sumpah tersebut yang terpenting diucapkan di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa Allah swt sekaligus sumpah tersebut dilakukan untuk mempertahankan Undang-Undang Dasar dan menjalankan semua undang-undang dan peraturan yang berlaku untuk berbakti pada negara dan bangsa.
Kepemimpinannya akan dilakukan dengan tulus, dengan mengutamakan kepentingan seluruh rakyat Indonesia termasuk yang tidak memilih beliau. Presiden dengan tegas mengatakan akan mengutamakan kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia di atas segala golongan apalagi kepentingan pribadi.
Tantangan dan Hambatan
Tantangan, rintangan, hambatan dan ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia di tengah dinamika dan pergulatan dunia tidak ringan. Bahwa karunia yang diberikan yang maha kuasa kepada bangsa Indonesia sungguh sangat besar dan beragam. Dengan luas wilayah daratan dan lautan yang sangat luas dan kekayaan alam yang sangat besar. Dengan kondisi seperti itu memberi optimis abad 21 tetapi kita harus berani melihat rintangan, tantangan, ancaman dan kesulitan yang ada di hadapan kita.
Presiden mengingatkan bangsa kita bangsa yang tidak takut rintangan, tantangan dan ancaman karena sejarah kita penuh dengan kepahlawanan dan pengorbanan.
Tantangan bangsa dan negara yang besar yang kita hadapi ada yang berasal dari luar kita, tapi kita harus berani akui banyak tantangan dan rintangan yang berasal dari kita sendiri. Mari kita berani mawas diri, memperbaiki diri sendiri dan mengoreksi diri sendiri.
Banyak kebocoran dan Penyimpangan
Kita juga harus berani mengakui masih banyak kebocoran penyelewengan dan korupsi di negara ini. Kolusi di antara para pejabat politik, pejabat pemerintah di semua lini dengan pengusaha nakal yang tidak patriotik.
Kita bangga diterima di G20 dan disebut ekonomi kita ke-16 terbesar di dunia. Kita boleh bangga dengan prestasi kita, tapi jangan tertegun, jangan terlalu puas dan gembira dengan menutup mata dan hati terhadap tantangan dan penderitaan saudara-saudara kita. Karena masih ada kemiskinan yang besar.
Yang dibutuhkan bangsa ini adalah bersatu untuk mencari solusi dan jalan keluar dari ancaman bahaya tersebut.
Swasembada Pangan, Energi dan Air
Indonesia harus swasembada pangan 4-5 tahun mendatang, tidak boleh bergantung sumber makanan dari luar.
Selain swasembada pangan, kita juga harus swasembada energi. Dalam keadaan ketegangan, kemungkinan terjadi perang di mana-mana kita harus siap dengan kemungkinan terburuk. Oleh karena itu harus berswasembada energi.
Kita juga harus mengelola air dengan baik. Kira punya sumber air yang cukup dan kita sudah punya teknologi menghasilkan air yang murah dan yang bisa memenuhi kebutuhan kita. Kekacauan di dunia disebabkan karena adanya krisis pangan, krisis energi dan krisis air. Semua energi itu dimiliki oleh kita.
Memberantas Korupsi
Kita harus berani menghadapi dan memberantas korupsi dengan perbaikan sistem dengan penegakan hukum yang tegas. Semua pejabat dari semua tingkatan harus memberi contoh menjalankan kepemimpinan perintah yang bersih dan penegakkan hukum yang tegas dan keras.
Kita perlu pemimpin yang tidak suka caci maki, arif bijaksana, mengerti dan cinta budaya dan sejarah bangsa sendiri yang bangga dengan adab tradisi dan adat bangsa kita sendiri.
Kita menghendaki kehidupan demokrasi yang khas Indonesia, yang berasal dari sejarah dan budaya kita. Demokrasi yang santun, demokrasi di mana berbeda pendapat tanpa permusuhan. Demokrasi di mana mengoreksi tanpa harus mencaci maki. Bertarung tanpa membenci, bertanding tanpa curang. Demokrasi yang harus menghindari kekerasan, adu domba, hasut menghasut dan demokrasi yang menghindari kemunafikan.
_We want to be a good Neighboor_
Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Dengan demikian kita ingin menjadi sahabat semua negara tapi kita punya prinsip, yakni anti penjajahan. Karena itu kita punya prinsip kita harus solider membela rakyat yang tertindas di dunia. Karena itu Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina.
Terima Kasih Kepada Presiden Pendahulu
Dalam pidatonya presiden menyatakan syukur dan terima kasih kepada para presiden pendahulu. Bung Karno telah memberi ideologi negara, Pancasila. Pak Harto menyelamatkan dan mengamankan ideologi Pancasila. Pak Habibie meletakkan dasar meraih dan menguasai iptek. Gusdur mengajarkan bagaimana toleransi beragama antar suku, menjunjung inklusivisme, pluralisme dan toleran. Bu Mega memperbaiki dan menyelamatkan perusahaan banyak hancur akibat krisis ekonomi global. Pak SBY yang memimpin di saat krisis yang berat, menghadapi tsunami dan menyelesaikan pertikaian di Aceh. Dan presiden Jokowi yang dengan kepemimpinan dan kenegarawanan menghadapi krisis yang sungguh berat dengan _Covid 19_ yang ditekan oleh seluruh dunia untuk _lockdown_ tapi pak Jokowi menolak karena mementingkan wong cilik, warteg, ojol rakyat yang makannya dari upah harian.
Presiden Prabowo, menutup pidatonya dengan mengajak untuk belajar dari kekurangan kita, menghentikan dendam dan kebencian, bangun kerukunan, bangun gotong royong, siap melanjutkan estafet kepemimpinan, kerja keras menuju Indonesia Emas. Menjadi bangsa kuat, merdeka, berdaulat, adil dan makmur.
Sebagai bangsa yang menghargai pemimpinnya, mari kita mengucapkan terima kasih kepada bapak Joko Widodo dan selamat bekerja bapak Prabowo. Semoga Allah melindungi para pemimpin kita, khususnya Presiden Prabowo dan beliau diberikan kekuatan lahir batin serta mampu membawa negara yang adil makmur _baldatun wa rabbun ghafur_.
Mohon koreksi.
_Shallallahu 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala alihi wa ashbihi wa sallam_.
