Membaca III
Membaca III
oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.
Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo
Tulisan ini masih di seputar membaca yang mengajak kepada kita untuk berfikir mendalam. Pada kesempatan ini akan membicarakan aspek kedua membaca dari sisi _formatif_ bagaimana membaca sebagai proses _pembentukan_ daya pikir dan _pemberdayaan_ individu.
Dalam pembahasannya
dari aspek _formatif_, membaca sangat penting karena:
Membaca _membentuk cara berpikir atau cara kita memahami realitas_. Otak manusia sebetulnya memiliki _neuroplastisitas_: ia terus-menerus membentuk ulang dirinya sendiri. Kecerdasan adalah sesuatu yang berkembang dan bertumbuh, tidak mandeg seperti yang dikira dahulu. Semakin kita mengaktivasi otak kita dengan berbagai cara, kemampuan otak semakin dipercanggih. Ada _paradoks_ juga di sini: bila pisau semakin sering dipakai semakin tumpul, otak sebaliknya, semakin dipakai justru semakin tajam. Salah satu cara yang tepat dan sehat untuk mengaktivasi sel-sel otak kita adalah dengan sering membaca. Membaca akan merangsang terbentuknya sinapsis-sinapsis baru (persambungan) antar jaringan syaraf otak, yang pada gilirannya semakin memampukan kita menghubungkan banyak hal yang tadinya seperti tak terhubung, menganalisis secara kritis, membuat _sintesis_, dan sebagainya. Dan itulah hakikat kecerdasan. Ketika membaca, kita dipaksa untuk melihat dan mengenali apa yang penting dan apa yang tidak penting; mana poin utama, bagaimana alur penalarannya, apa kesimpulannya, dan seterusnya.
Membaca _memperdalam cara pandang dan memperluas imajinasi_. Ini terutama kalau kita membaca novel. Novel merekam jatuh-bangunnya manusia, merekam kerumitan emosi dan imajinasi manusia. Bila buku-buku ilmiah bernilai karena berisikan gagasan-gagasan yang bersifat universal, novel berharga justru karena dia merupakan tulisan individual; bagaimana kehidupan dijalani secara unik dan dipahami dari perspektif pribadi. Ini penting untuk lebih memperjelas bahwa bagi setiap orang, hidup itu memang dialami dan dipahami secara berbeda-beda. Maka untuk memahami kompleksitas kenyataan hidup tidaklah cukup kita hanya menggunakan sains. Sains penting untuk menangkap fakta dan pola. Seni (sastra) penting untuk menangkap makna, imajinasi dan rasa. Hidup manusia adalah soal makna, soal apa yang dirasa berharga, apa yang diimajinasikannya sebagai cita-cita. Dan ini memang bersifat pribadi, terkait pada pengalaman, perasaan, imajinasi, impian, yang memang berbeda-beda. Makin banyak kita membaca novel, semakin kita masuk ke dalam aneka bentuk kehidupan yang sebetulnya pelik. Misalnya, apa sebenarnya yang membuat seseorang itu menderita, termotivasi bekerja, berjuang, terluka, bermimpi; apa yang dianggapnya bahagia, dan sebagainya. Dengan cara itu, empati dan toleransi kita terhadap sesama manusia ditumbuhkan dan diperdalam. Membaca novel sebenarnya bukan sekadar pengisi waktu luang atau hiburan, meskipun memang menyenangkan. Di dunia Barat, sejak sekolah dasar, anak-anak dibiasakan membaca novel-novel klasik, seperti karya Alexandre Dumas, Victor Hugo, dan sebagainya. Di dunia Barat, para sastrawan besar memang dikategorikan satu kolam dengan para filsuf, sebab mereka itu sesungguhnya perenung, yang menyelami dilema, misteri, dan dinamika kehidupan manusia. Mereka mampu merumuskan secara mendalam dan menyentuh hal-hal yang biasanya tak terumuskan.
Membaca _memperbaiki keterampilan berbahasa dan berkomunikasi_. Kalau kita tak membaca, kemampuan komunikasi dan keterampilan menulis kita pasti buruk. Dan itu sumber penyakit di Indonesia hari ini. Beliau menyaksikan bagaimana umumnya orang-orang Indonesia membuat _skripsi_, _tesis_, atau _disertasi_ dengan bahasa dan alur nalar yang parah. Itu karena umumnya mereka baru _intens_ membaca ketika hendak membuat skripsi atau disertasi saja. Membaca dan menulis bukan merupakan kebiasaan yang membudaya. Kebiasaan membaca akan mengakrabkan kita dengan frasa-frasa, kalimat-kalimat, atau alur nalar, yang bagus dan mendalam. Dengan itu, otomatis kita akan menggunakan keterampilan serupa ketika harus menulis.
Membaca _melatih konsentrasi dan fokus_. Anak-anak sekarang sepertinya sulit berfokus, karena di dunia digital, konsentrasi selalu terpecah (_distracted concentration_). Membaca buku—terutama yang tebal—membantu melatih fokus dan konsentrasi.
Membaca _memperkuat daya ingat_: mengingat tokoh-tokoh dan alur cerita pada novel, mengingat isi gagasan dan alur nalar pada buku wacana.
Membaca _membentuk pikiran dan memperkuat sikap individual_. Di Indonesia ada ironi: dari sudut sikap mental, orang-orang Indonesia sangat _individualistik_ (_egoistik_), seperti terlihat pada perilaku berlalulintas di jalanan; tapi dalam cara berpikir, umumnya sangatlah kolektivistik, latah, dan ikut-ikutan.
Membaca _membentuk pikiran sikap pribadi_. Rendahnya membaca membuat sikap personal kita _tidak terbentuk_. Akhirnya kita bermental kawanan terus. Bangsa Indonesia sejak _reformasi_ dari sudut _mental_ sangat _egoistik_ seperti di jalanan di lalu lintas semua mau menang sendiri, tapi dalam cara berpikir sangat _kolektivistik_ (latah), yaitu apa yang dipikirkan orang, itu pula yang kita dipikirkan _kontradiksi_ yaitu individulitas kita yang mentah. Kita sedang belajar menjadi individu, menjadi sangat individualistik tapi itu individualitas yang mentah, cara itu _tragis_ dan bisa sangat _anarkhis_.
Membaca, _membentuk empati atas kemanusiaan universal_. Otomatis makin kita luas membaca makin kita dapat me- _rontgen_ kehidupan manusia di berbagai tempat, kita jadi tahu perasaan. Kita punya _stereotip_ kalau orang buletin begini orang Jepang begini. Begitu kita membaca karya-karya mereka, lain persepsinya kita seperti menyelami kehidupan mereka lebih dalam dan _empati_ kita akan makin terbentuk.
Orang Indonesia itu sangat _egoistik_ , menjadi _dogmatis_ dan sangat _stereotip tipikal_ kalau chinese begini negro itu begini apalagi dalam hal agama, kalau agama A begini B begini dan yang membuat _rentan_ sekali kita _konflik_ yang mestinya tidak perlu.
Kita rentan sekali menghancurkan diri sendiri, karena _stupid_ kita mengira berbuat sesuatu demi _agama_ tetapi diam-diam cara kita memperlakukan agama _merusak_ agama itu sendiri, sering kali itu tidak kita sadari. Itu kerentanan-kerentanan akibat kita tidak membaca.
Demikian, mentalitas orang Indonesia yang umumnya masih _egoistik_ , mentah, dan latah, disertai cara berpikir yang picik, _dogmatis_ , dan naif, bila tidak dikembangkan dan diperdalam oleh budaya baca-tulis yang baik, bisa membawa kita kepada bermacam _konflik_ atas hal-hal remeh-temeh yang tidak penting. Urgensi budaya literasi ini, bila diabaikan, bisa mendorong kita kepada penghancuran diri sendiri secara konyol tanpa disadari. Membaca memperdalam dan memperluas kemanusiaan kita, tapi juga membimbing kita ke tingkat keadaban lebih tinggi.
Semoga bernanfaat dan menjadi pembelajaran bagi kita.
_Allhumma sholli wa sallim 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi_
