logo

Dialog Al Ghazali dan Murid

Ditulis oleh Sabri on .

Ditulis oleh Sabri on . Dilihat: 1394

Dialog Al Ghazali dan Murid

oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

 

        Suatu ketika Imam Al Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu terjadi dialog di antara mereka. Al Ghazali bertanya,  murid-murid ku sekalian, coba kalian jawab, “Apa yang _paling dekat_ dengan diri kita di dunia ini? Murid-muridnya menjawab “orang tua, guru, kawan, dan sahabatnya”. Imam Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah _mati_.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayaka (Ali Imran 185).

       Kematian adalah sesuatu yang tiada seorang pun tahu kapan ia akan datang. Karena itu manusia harus selalu bersiap diri menghadapinya.  Janganlah kita lengah dalam memahami hal ini, jangan sekali-kali merasa diri jauh dari mati, karena itu membuat kita besar hati. Justru kerahasiaannya harus kita maknai bahwa mati bisa terjadi kapan saja dan di mana saja tanpa adanya peringatan dari-Nya. Inilah yang hendak disampaikan oleh Al-Ghazali kepada murid-muridnya.

         Lalu Imam Ghazali meneruskan pertanyaan yang kedua, “Apa yang _paling jauh_ dari diri kita di dunia ini?” Murid -muridnya menjawab “negara Cina, bulan, matahari dan bintang -bintang”. Sang Imam  menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah _masa lalu_. Walau dengan apapun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang mulia.

Ini tepat dengan sebuah hadits yang menganjurkan bahwa kehidupan kita hari ini harus jauh lebih baik dari kemaren, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Jika dipikir lebih dalam, maka yang perlu diperhatikan adalah _waktu_. Waktu tidak akan datang berulang untuk kedua kali, sekali kita bertindak kesalahan kita tidak bisa merevisinya lagi. Kita hanya bisa bertobat dan berharap pengampunan. Emas, harta bisa dicari tapi waktu yang sudah berlalu tak mungkin datang kembali. Mati dan waktu adalah dua rahasia yang ada di genggaman-Nya. 

        Selanjutnya Imam Ghazali mengajukan  pertanyaan ketiga, “Apa yang _paling besar_ di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab “gunung, bumi dan matahari”. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghazali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah _nafsu_.

       "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A’Raf 179).

       Nafsu adalah musuh terbesar pada diri manusia. Ingin bahagia yang hakiki, kendalikan nafsu, ingin celaka selamanya, turuti nafsu. Pengendalian nafsu adalah kunci dalam hidup. Itulah pesan tersembunyi dari al-Ghazali bahwa nafsu adalah hal paling besar, yang paling menentukan.

        Kemudian al-Ghazali meneruskan pada pertanyaan keempat, “Apa yang _paling berat_ di dunia ini?”. Para murid  menjawab “besi dan gajah”. Semua jawaban benar, kata Imam, tapi yang paling berat adalah _memegang amanah_.

        "Sesungguhnya Kami telah menawarkan _amanat_ kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (Al Ahzab 72).

       Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua menolak ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi _khalifah_ (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia terjerumus ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

         Pertanyaan Imam al-Ghazali yang kelima adalah, “Apa yang _paling ringan_ di dunia ini?" 

dijawab “kapas, angin, debu dan daun-daunan”. Semua itu benar jawab Imam, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah _meninggalkan sholat_. Gara-gara pekerjaan, kita meninggalkan sholat, gara-gara hal sepele kita meninggalkan sholat. Kita harus ingat bahwa sholat adalah perkara pertama yang ditanyakan Allah kepada manusia. Dan sholat adalah kewajiban terpenting di dunia ini. Namun anehnya, meski demikian sholat adalah hal termudah yang sering dilewatkan oleh orang-orang muslim. Ringan sekali melewatinya.

        Dan pertanyaan keenam adalah, “Apa yang _paling tajam_ di dunia ini?”. Para muridnya menjawab dengan serentak, “pedang”. Benar kata sang Imam, tapi yang paling tajam adalah lidah _manusia_. Karena lidah, manusia selalu menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

       Semoga kita dapat mengambil hikmah dari dialog Al Ghazali dengan para muridnya.

 _Wallahu a'lam bi showab_ 

 _Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ashhabihi wa sallim_











Hubungi Kami

Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

Jl. Tinaloga No.5 Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Utara, Gorontalo

Telp: 0435-8591389 
Fax: 0435-831625

Email : surat@pta-gorontalo.go.id

Hak Cipta Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo © 2022