logo

Euforia itu Sesaat

Ditulis oleh Sabri on .

Ditulis oleh Sabri on . Dilihat: 891

Euforia itu Sesaat

oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

 

         Tadi malam baru di release hasil TPM (tim promosi dan mutasi) jabatan kesekretariatan oleh MA RI dari semua unsur peradilan. Sebelumnya telah dikeluarkan hasil rapat pimpinan tentang mutasi Hakim Tinggi, Ketua, Wakil, Hakim tingkat pertama dan juga kepaniteraan. Dengan keluarnya Surat Keputusan tersebut, tentu menimbulkan reaksi gembira bagi mereka yang mendapatkan promosi dan mutasi sesuai yang diinginkan, namun sebaliknya menimbulkan rasa kecewa karena tidak memenuhi harapan mereka. Sudah lumrah bagi yang menerima SK memunculkan euforia perasaan gembira yang berlebihan, karena keinginannya tercapai dan sedih disebabkan jauh dari harapan. Itulah realita hidup yang dialami setiap orang, ada susah ada senang, ada sedih ada gembira.

        Kita mesti menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang bagaimana mengejar, mayoritas di antara kita aktif mengejar, namun juga menggali, terhadap hal ini, kita kurang peduli dan kurang menyadari. Inilah sikap hidup yang kadang luput dipraktikkan di tengah godaan dan tekanan untuk memiliki yang kadang menjadi berlebihan dan nirmakna.

       Blaise Pascal, filsuf dan ahli matematika Perancis abad-16, mengatakan bahwa manusia lebih sering tergoda untuk mengejar ketimbang menggali. Pilihan seperti ini, bagi Pascal, sering menjerumuskan manusia untuk tidak mampu memaknai hidup dengan pendekatan substansial, bukan hanya yang elementer dan bersifat kulit semata.

       Senada dengan Pascal, seorang KH Zulfa Mustofa dalam catatannya dalam  pengantar  buku Renungan Kehidupan, Pendidikan dan Keberagamaan (2023)  mengingatkan bahwa orang kerap tertipu oleh hal-hal instrumental dan artifisial (semu). Dalam ranah post modernisme, hal demikian dikenal sebagai simulacra (dunia seolah-seolah; seolah-olah paling beragama, seolah-olah paling bahagia, seakan-akan paling penting, dan sebagainya).

      KH Zulfa Mustofa juga mengingatkan perlunya langkah reflektif atas perjalanan hidup, terlebih dalam konteks kekinian yang penuh tantangan. Apa yang digaungkan sebagai era disrupsi, misalnya, kerap mengaburkan makna kebenaran karena sikap manusia yang cenderung instan dan materialistis.

      Seorang penyair berkebangsaan Inggris, Philip James Bailey (1816-1902) pernah mengatakan bahwa yang penting bukan berapa lama kita hidup, tapi bagaimana cara menjalani kehidupan tersebut. Oleh karena itu,  hati yang sehat bukanlah satu-satunya tolok ukur kebahagiaan; melainkan kebahagiaan sejati dapat ditemukan melalui penghayatan dan penerimaan terhadap keindahan hidup, baik dalam suka maupun duka.

       Metafora hidup sebagai penziarahan menggambarkan perjalanan panjang yang tidak pasti, di mana manusia tidak tahu kapan akan menghentikan langkah, berjumpa dengan kematian. Seiring dengan berjalannya waktu, tiap detik yang berlalu menjadi bagian dari rentetan peristiwa hidup.

        Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menggali makna di balik setiap momen suka dan duka yang dihadapi. Hidup ini bukan sekadar menjalani waktu, tetapi sebuah kesempatan untuk memberikan makna pada eksistensi kita sebagai manusia dan mewarnai perjalanan dengan cinta kebaikan. Dalam meresapi hidup, manusia dihadapkan pada berbagai pilihan, dan penting untuk memilih jalur yang memunculkan makna dan kebaikan.

        Dengan demikian, pembelajaran yang dapat disimpulkan, bahwa hidup bukan hanya tentang bagaimana manusia menyelesaikan perjalanan sebagai ziarah , tetapi juga tentang bagaimana kita memberikan arti pada setiap langkah yang diambil. Kesadaran akan kehadiran Allah (Tuhan), cinta-Nya, dan kasih yang dihadirkan dalam hidup dapat menjadi pendorong untuk menjadikan peziarahan hidup berarti, penuh makna, dan diliputi oleh kebaikan.

   Akhirnya, di antara kita yang terbawa euforia harus sadar, ia hanya sesaat, di balik itu amanah dan tanggung jawab melekat di pundak kita.

        Selamat kepada yang promosi dan mutasi, semoga lebih sukses dan selalu dalam keberkahan, amin...

 Wallahu a'lam bi showab

 Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ash habihi wa sallim








Hubungi Kami

Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

Jl. Tinaloga No.5 Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Utara, Gorontalo

Telp: 0435-8591389 
Fax: 0435-831625

Email : surat@pta-gorontalo.go.id

Hak Cipta Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo © 2022