logo

Pemimpin Ideal

Ditulis oleh Sabri on .

Ditulis oleh Sabri on . Dilihat: 1093

Pemimpin Ideal

oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

 

         Hari ini kita sedang disuguhi hajat di negeri Paman Sam dalam memilih presiden ke 47 sepanjang sejarahnya. Mata seluruh dunia pun tertuju ke benua Amerika, menunggu siapa bakal presiden terpilih.

        Demikian halnya yang terjadi di negara kita, kericuhan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak sedang memasuki puncaknya karena tanggal 27 November nanti kontestasi pilkada akan berakhir baik pilbup, pilwakot maupun pilgub dengan para calon wakilnya. Persaingan yang begitu sengit dan ketat mewarnai kampanye dari masing-masing pasangan calon (paslon) di seantero Indonesia.

         Dalam alam demokrasi, perebutan untuk menjadi pemimpin negara atau daerah dijamin oleh konstitusi negara. 

        Berbeda dengan era kini, pernah tercatat dalam sejarah Islam ada seorang yang menolak diangkat sebagai khalifah(kepala negara) dia adalah Umar bin Abdul Azis.

         Menolak Diangkat Khalifah

        Ibnu Jauzi dalam kitabnya menukilkan surat wasiat yang ditujukan kepada Umar bin Abdul Aziz, yang berbunyi sebagai berikut:

 Ini adalah catatan dari Abdullah Sulaiman, Amirul Mukminin, kepada Umar bin Abdul Aziz. Aku jadikan dia khalifah setelah aku, dan setelah dia Yazid bin Abdul Malik. Maka dengarkanlah dia dan taatilah dia, dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah berbeda pendapat.(Ibnul Jauzi, 60).

         Dengan adanya wasiat itu, semua terusik, Umar bin Abdul Aziz sulit untuk menerima. Ia sendiri tidak ingin jadi Khalifah yang bermakna akan mewarisi masalah yang bertumpuk selama puluhan tahun.

        Umar kemudian bersumpah:

"Demi Allah aku tidak pernah meminta kepada Sulaiman dan tidak pernah berharap untuk menjadi Khalifah. Aku diangkat tidak berdasarkan musyawarah dengan kalian, maka aku anggap ini batal, aku kembalikan amanah ini sekarang."

         Umar lalu mengirim surat ke semua wilayah jika ada yang menolak, maka isi surat itu menjadi batal. Hasilnya semua tidak ada yang menolak, masyarakat secara luas mnerima kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Di sini Umar telah mengembalikan suksesi pemilihan kepada pemilihan rakyat. Bahwa seorang pemimpin dipilih oleh rakyat dan hak rakyatlah yang menentukan bukan karena ditunjuk. Pasca itu, gejolak politik termasuk dengan Khawarij sangat minim di masa Umar dan tingkat kepuasan kepada pemimpin sangat tinggi.

        Negara Stabil

        Selama kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, umat Islam dipenuhi dengan ketenangan, dimulai dari Asia Tengah hingga Andalus. Ketenangan ini yang membuat Umar bisa membangun kebijakan dalam sektor lainnya. Umar mengawalinya dengan melakukan perbaikan birokrasi, mengganti semua pejabat korup dengan yang bersih. Selama setahun masalah yang menumpuk, bisa diselesaikan. Pendidikan berjalan dengan sangat baik. Umar mengangkat orang berilmu yang berintegritas tinggi dan berakhlak. 

          Dalam kitab Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Asfahani mencatat riwayat akhlak Umar bin Abdul Aziz dan penasihatnya: 

         Abu Hamid bin Jabbalah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq bercerita, Ahmad bin Al-Walid bercerita, Muhammad bin Katsir bercerita, Abu Katsir bin Marwan bercerita, dari Raja’ bin Haiwah, ia berkata:  

"Aku berbincang dengan Umar bin Abdul Aziz di malam hari, dan lampu (di ruangan hampir) terjatuh. Aku bergegas hendak berdiri untuk memperbaikinya, (dan) Umar menyuruhku untuk tetap duduk. Ia berdiri dan memperbaiki lampu tersebut, kemudian kembali duduk, sembari berkata:  

"Aku berdiri, aku tetap Umar bin Abdul Aziz. Aku duduk, aku tetap Umar bin Abdul Aziz. (Tidak ada bedanya). Dan, (sungguh) tercela orang yang (membiarkan) tamunya melayani(nya)"." (Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Asfahani, Hilyatul Auliyâ’ wa Thabaqâtul Ashfiyâ’, Beirut, Darul Fikr: 2019, juz V, halaman 264). 

        Harta negara menjadi produktif karena kezaliman (korupsi) terhadap harta berhasil diberantas. Ditambah keteladanan khalifah yang zuhud dan dermawan. Hasilnya tingkat kemakmuran merata luar biasa. 

        Ibnu Jauzi menyebutkan,

dia berkata: Ishaq Al-Fazari menceritakan kepada kami, berdasarkan riwayat al-Auza'i, dia berkata: Umar bin Abdul Aziz biasa memasukkan satu dirham uangnya ke dalam makanan kaum Muslimin setiap hari, dan beliau makan bersama mereka. (Ibnul Jauzi,19).

         Pprestasi Umar bin Abdul Aziz adalah prestasi yang ideal sebagai seorang pemimpin. Sejarah mencatat Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah melakukan perbaikan politik dengan baik (ishlahus siyasah). Perbaikan ini membawa dampak perekonomian dan kesejahteraan wilayah Bani Umayah. 

        Bagi kita yang sedang memegang amanah sebagai pimpinan di suatu lembaga marilah kita menjalankan tugas tersebut dengan penuh tanggung jawab dan mengedepankan uswatun hasanah(teladan yang baik).

 Wallahu a'lam 

Allahumma sholli wa sallim 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa ashhabihi ajma'in. 






Hubungi Kami

Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

Jl. Tinaloga No.5 Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Utara, Gorontalo

Telp: 0435-8591389 
Fax: 0435-831625

Email : surat@pta-gorontalo.go.id

Hak Cipta Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo © 2022