logo

Ketawadhu'an Salafus Sholeh

Ditulis oleh Sabri on .

Ditulis oleh Sabri on . Dilihat: 1241

Ketawadhu'an Salafus Sholeh 

oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

    

         Generasi setelah Nabi saw yang paling baik dijadikan teladan bagi kita dalam _berakidah, bermuamalah dan berakhlaq_ adalah _generasi salafus shaleh_, maka merupakan keharusan bagi kita mempelajari sejarah mereka dari generasi ke generasi. 

            Siapa Salafus Shaleh

            Secara bahasa _salafus shaleh_ adalah golongan orang-orang _shaleh_ terdahulu. Sedangkan secara istilah _salafus shaleh_ adalah orang-orang yang tergolong dalam tiga generasi pertama, yaitu _Sahabat Nabi, Tabi’in, dan Tabi’ut tabi’in_. Selebihnya tidak  dapat disebut sebagai generasi _salafus shaleh_.

         Pengertian _salafus shaleh_ seperti tersebut di atas adalah sesuai dengan sabda Rasulullahh saw bahwa: _Sesungguhnya  sebaik-baik manusia adalah kurun saya (sahabat), kemudian orang orang yang mengiringinya (tabi’in), lalu orang-orang yang mengiringi berikutnya (tabi’ut tabi’iin)_

         Maka dengan demikian _sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in_ adalah orang-orang yang paling tepat diikuti daripada lainnya, karena mereka adalah orang-orang yang paling jujur dalam keimanannya, dan paling ikhlas dalam ibadahnya dan amalannya serta paling mulia dalam akhlaknya. Mereka penjaga _aqidah_, dan penopang _syari'ah_ yang mengamalkannya dengan ucapan dan perbuatan terlebih berperilaku mulia dalam akhlaknya.

         Mereka yang tergolong _salafus shaleh_ adalah orang-orang salih dari tiga generasi pertama Rasulullahh saw yaitu para sahabat Nabi,  tabi'in, dan tab'iut tabi'in. Oleh karena itu kewajiban bagi setiap muslim _mukallaf_ adalah _ittiba’_ dan mengikuti langkah-langkah ketiga generasi tersebut, termasuk hasil _ijtihad_ mereka. 

        Ada tiga alasan mendasar yang disandang oleh salafus sholeh:

Pertama, _alim ‘allamah_ (ilmu yang sempurna) dalam segala bidang.

Kedua, berkepribadian _wara_ ’ (senantiasa menjaga terhadap hal yang kurang pantas diucapkan atau dilakukan) dan teruji.

Ketiga, berwawasan ke depan dengan cakrawala yang sangat luas.

        Sikap Tawadhu' Salafussoleh

         Kali ini, penulis akan menukilkan perilaku _tawadhu_' salafus sholeh dari generasi _tabi'in dan tabi'i tabi'in_ khususnya para empat imam _mujtahid_ besar yang sangat terkenal.

         Dengan kapasitas keilmuannya mereka sangat menunjukkan _ketawadhu'annya_ dalam perilaku sehari-hari.

        Imam Abu Hanifah rahimahullah, berkata:

"Aku berpegang kepada Kitab Allah. Kemudian apa yang tidak aku dapati (di dalam Kitab Allah, maka aku berpegang) kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika aku tidak dapati di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, aku berpegang kepada perkataan-perkataan para sahabat beliau.Aku akan berpegang kepada perkataan orang yang aku kehendaki. Dan aku tinggalkan perkataan orang yang aku kehendaki di antara mereka. Dan aku tidak akan keluar dari perkataan mereka kepada perkataan selain mereka".

"Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.”

         Imam Malik bin Anas rahimahullah.

Imam Ibnul Qoyyim menyatakan, bahwa Imam Malik rahimahullah berdalil dengan ayat 100, surat At Taubah, tentang kewajiban mengikuti sahabat. "Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah, ambillah, dan bila tidak sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah, tinggalkanlah".

        Imam Syafi’i rahimahullah, berkata

"Selama ada Al Kitab dan As Sunnah, maka alasan terputus atas siapa saja yang telah mendengarnya, kecuali dengan mengikuti keduanya. Jika hal itu tidak ada, kita kembali kepada perkataan-perkataan para sahabat Nabi saw, atau salah satu dari mereka". "Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang shahih dari Nabi saw, hadits nabi lebih utama dan kalian jangan _bertaklid_ kepadaku.” 

          Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, ia berkata: "Pokok-pokok sunnah menurut kami adalah berpegang kepada apa yang para sahabat Rasulullah saw berada di atasnya, meneladani mereka, meninggalkan seluruh _bid’ah_.  "Janganlah engkau _taqlid_ kepadaku atau kepada Malik, Sayfi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil. 

         Pelajaran yang dapat dipetik dari ucapan para imam _mujtahid_ tersebut betapa _tawadhu'_ mereka yang menyuruh muslim _mukallaf_ untuk tidak mengambil pendapat dan _taqlid_ kepada mereka tanpa mengetahui sumber dalilnya. 

         Keharusan mengikuti langkah ulama _salaf_ adalah keniscayaan, meskipun mereka adalah seorang _mujtahid_, sebagaimana pendapat Imam Malik dan pengikutnya, pendapat lain menyatakan cukup _ittiba’_  bagi selain _mujtahid_, atau orang yang belum sampai pada derajat seorang _mujtahid_, sedang bagi _mujtahid_ harus berijtihad sendiri.

         Dengan demikian tampak bahwa _al-salaf_ yang dianut oleh ulama Indonesia mayoritas, adalah mengikuti ( _ittiba_ ') Nabi, sahabat, tabi'in, tabi'i tabi'in, dan para ulama yang kurunnya berdekatan dengan tabi'i tabi'in dan seterusnya. Kesemuanya membentuk sebuah _genealogi_ keilmuan dan keteladanan yang terbingkai dalam _ahlussunnah wal jamaah_.

 

 _Wallahu a'lam bi showab_ 

 _Allahumma sholli wa salli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala lihi wa ashhabihi ajma'in_












Hubungi Kami

Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

Jl. Tinaloga No.5 Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Utara, Gorontalo

Telp: 0435-8591389 
Fax: 0435-831625

Email : surat@pta-gorontalo.go.id

Hak Cipta Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo © 2022