logo

Hubbul Wathon Minal Iman?

Ditulis oleh Sabri on .

Ditulis oleh Sabri on . Dilihat: 2344

Hubbul Wathon Minal Iman?

oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

 

    Tanggal 5 Oktober 2024 kemarin baru diperingati 79 tahun hari lahir TNI. Peringatan tersebut merupakan wujud TNI dalam mengejawantahkan penegakan kedaulatan, 

mempertahankan keutuhan wilayah dan melindungi segenap bangsa dan tanah tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. Diksi ini memberi pemaknaan bahwa kita mesti mencintai tanah air.

    Apakah cinta tanah air sebagian dari iman Hubbul Wathon minal Iman? 

Hubbul wathon minal iman adalah slogan yang artinya adalah ' cinta tanah air atau nasionalisme bagian dari iman '. Jadi hubbul wathon minal iman hanyalah slogan bukan hadits.

"Bagi saudara kita yang bercita-cita menegakkan khilafah pasti menganggap nasionalisme sebagai salah satu penghalang. Makanya mereka menolak apapun yang berkaitan dengan nasionalisme, termasuk slogan Hubbul Wathan minal Iman," tulis KH Ma'ruf Khozin.

    Dalam kitab Al-Maqashid Al-Hasanah karya Al-Hafidz Muhammad Abdurrahman As-Sakhawi membenarkan kandungan makna slogan Hubbul Wathon Minal Iman. "'Cinta tanah air adalah bagian dari iman. Saya tidak menemukan sebagai hadits, tapi maknanya sudah benar," tulis Ketua Bidang Fatwa MUI Jawa Timur itu.

    KH Ma'ruf Khozin menambahkan, sejak awal para kiai juga menegaskan bahwa kalimat itu bukanlah sebuah hadist. Meskipun bukan hadits, Kiai Ma'ruf menjelaskan bahwa cinta tanah air merupakan saripati dari doa Nabi dalam hadits shahih.

    Saat Nabi Muhammad dan para Sahabat hijrah ke Madinah, mereka menemui bahwa Kota Yatsrib itu banyak wabah penyakit. Ketika mendengar sebagian Sahabat mengeluhkan hal itu, Nabi SAW pun berdoa agar dapat mencintai Madinah sebagai kota di mana bumi dipijak dan langit dijunjung.

    Berikut doanya Nabi Muhammad saat itu, dikutip dari NU Online.

 Allahumma habbib ilaina al Madinata kahabibna Makkata au asyaddu rawahu Al Bukhori.

Artinya: "Ya Allah, jadikan kami cinta Madinah, sebagaimana cinta kami kepada Makkah, atau melebihi Makkah" (HR al-Bukhari).

    Makna dari doa tersebut menunjukkan betapa Rasulullah dalam menjalani kehidupan selalu mencintai negerinya. Hal ini juga sama dengan istinbath hukum yang dilakukan oleh ulama ahli hadits dari Sahabat Anas, bahwa Rasulullah mempercepat laju untanya manakala rumah di Madinah sudah tampak di pandangannya. Hal itu dilakukan Rasulullah karena cintanya kepada kota tersebut.

    Mengutip Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, dijelaskan hadist tersebut menunjukkan tentang keutamaan Kota Madinah dan disyariatkannya cinta tanah air serta rindu terhadap negeri. Kecintaan terhadap negeri itu dapat diaktualisasikan dengan silaturahmi dan berlaku baik terhadap penduduknya.

    "Negeri tersebut adalah negeri yang telah diketahui, dengan syarat kecintaan pada negeri tersebut untuk bisa bersilaturahmi, atau berbuat baik kepada penduduk negerinya, orang fakir dan anak yatimnya," terang KH Ma'ruf dengan mengutip pandangan Syekh Al-Ajluni dalam kitab Kasyf Al Khafa'.

   Dengan demikian tadzkirah (peringatan) hari kemerdekaan, peringatan hari TNI dengan tujuan cinta nasionalisme membela tanah air sangat relevan dengan makna hadits tersebut di atas.

Wallahu a'lam bis showab










Hubungi Kami

Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

Jl. Tinaloga No.5 Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Utara, Gorontalo

Telp: 0435-8591389 
Fax: 0435-831625

Email : surat@pta-gorontalo.go.id

Hak Cipta Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo © 2022