logo

Sanad

Ditulis oleh Sabri on .

Ditulis oleh Sabri on . Dilihat: 1457

Sanad

oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

 

    Belajar agama tidak cukup dengan membaca buku-buku, apalagi sebatas terjemahan, menonton Youtube, atau mendengarkan podcast semata. 

    Ilmu yang didapat dari sosok guru yang jelas dan mempunyai _sanad_, maka muaranya akan menghasilkan ilmu yang bisa menentramkan hati dan menjernihkan akal pikiran, bukan justru menghasilkan kegemaran saling menyalahkan.

    Pondok pesantren merupakan pendahulu dari sistem asrama yang telah lama diselenggarakan di dunia. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang berorientasi pada kajian keagamaan yang bersumber pada _Al-Quran dan hadits_. Sampai saat ini, pesantren semakin menarik perhatian masyarakat karena menanamkan _ketersambungan rantai atau sanad_ (transmisi keilmuan) untuk menjaga _orisinalitas dan kevalidan_ keilmuan antara guru dan murid.

“Sanad secara _bahasa_ adalah _al-Mu'tamad_ (tempat bersandar atau bergantung), dinamakan demikian sebab hadits disandarkan kepada sanad atau bergantung kepadanya. Secara _istilah_, sanad adalah silsilah para perawi yang menyambungkan hingga ke _matan_ atau redaksi.” (Mahmud Thahhan, Taysir Musthalah al-Hadits, Maktabah al-Ma'arif, cetakan ke-10: 2004, hal 19).

    Imam Bukhari di dalam kitab Shahih Bukharinya berkata:

" _Ta'allamuu qabla dzaanniina_ "

Artinya:

"_Mengajilah (belajarlah) kamu sebelum kamu bertemu dengan orang yang hanya bermodalkan prasangka_".

    Kutipan Imam Bukhari tersebut lantas disyarahi oleh Imam Nawawi yang berbunyi:

"Wa maknahu ta'allamul ilma min ahlihi almuhaqqiqiina alwari'iina qabla dzihaabihim wa majii'i qaumin yatakallamuuna fil ilmi bi mitsli nufusihim  wa dzunuunihim allati laisa laha mustanadun syar'iyun"

Artinya:

"Mengajilah (belajarlah) dengan bersungguh-sungguh kepada orang yang benar-benar berilmu sebelum kamu bertemu dengan masanya orang yang berbicara ilmu yang hanya bermodalkan nafsu dan prasangka tanpa sandaran yang jelas".

     Maqolah kedua ulama di atas menunjukkan kepada kita pentingnya berilmu kepada guru atau ulama yang memiliki sanad yang jelas. Hal ini yang akan kemudian mampu menjauhkan kita dari kesesatan dalam beragama. Ulama adalah pewaris para nabi.    Setelah kenabian ditutup dengan diutusnya Rasulullah saw., maka warisan keilmuan keagamaan berada dalam tanggung jawab para ulama. Penting untuk menengok, mempelajari, dan belajar langsung kepada para ulama untuk menjaga kesinambungan ilmu dari Rasulullah saw. 

    Tentang pentingnya sanad, Abdullah bin Mubarak _rahimahumullah_ dalam kitab Shahih Muslim berkata: _Al Isnaadu minad diini laulal isnaadu la qaala man syaa'a wa maa syaa'a diini_ 

 _Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan  karena sanad (transmisi keilmuan), pasti siapa pun bisa berkata dengan apa yang dia kehendaki._ 

     Di masa dekade awal, sanad dianggap tidak penting, tetapi ketika fitnah merebak, maka sanad menjadi alat penting untuk validasi informasi keagamaan. Sebagaimana dikatakan _Imam Nawawi._ 

Lam yakuunu yas'aluuna anil isnaadi falammaa waqa'at alfitnatu qaaluu lana rijaalakum fayandzuru ila ahli sunnati fa yukkhadzu  haditsuhum wa yandzuru ila ahli bida'i fala yukkhadzu hadituhum. 

  Artinya: “Dulu mereka (para ulama di masa sahabat), tidaklah bertanya tentang sanad. Ketika terjadi fitnah, mereka berkata: "Sebutkanlah nama para perawi (hadits) kalian. Untuk dilihat (apakah berasal dari) Ahlussunnah, sehingga diambil (diterima) haditsnya. Dan dilihat (apakah berasal dari) ahlul bid'ah, sehingga tidak diambil hadits mereka.”

    Sanad menjadi tradisi dan ciri khas Ahlussunnah wal Jamaah. Tradisi keilmuan golongan ini lahir dari pesantren. Hadratussyaikh _KH M Hasyim Asy'ari_ dalam kitabnya _Risalah Ahlussunnah wal Jamaah_ menyatakan, hendaknya berhati-hati dalam mengambil suatu ilmu (informasi). Dan seyogyanya tidak mengambil ilmu dari orang yang bukan ahlinya. Beliau menyitir perkataan _Ibnu Malik Ra._ 

"La tahmilul ilma anil bida'i wala tahmiluhu 'an man la ya'rifu bitthalabi wa la an man yukadzibu fi haditsin nasi wa in kana la yukadzibu fi hafitsi rasulillahi SAW"

Artinya:

 “Jangan mengambil ilmu dari orang ahli bid'ah, serta janganlah menukilnya dari orang yang tak diketahui dari mana ia mendapatkannya, dan tidak pula dari siapapun yang dalam perkataannya ada kobohongan, meskipun ia tidak berbohong dalam menyebutkan hadits Rasulullah Saw.”

    Dengan demikian sanad dan ijazah sangat penting untuk mempertahankan otentisitas dan orisinalitas ilmu, khususnya tentang agama Islam yang terus dipegang kuat dalam tradisi pesantren dan golongan Ahlussunnah wal Jamaah sebagai ciri khasnya. Sebagaimana pendapatnya Abdullah bin Mubarak. 

 _Qala  Abdullah lfargu bainana wa baina alqaumi al-isnad_ 

Artinya: “Abdullah ibnu Mubarak berkata, " _Yang membedakan antara kita (Aswaja) dengan kaum lain adalah sanad.”_ 

    Penjelasan di atas menegaskan bahwa setiap santri harus memiliki guru yang mempunyai kemampuan dan _sanad_ keilmuan yang jelas. Karena sanad ilmu menunjukkan pentingnya otoritas seseorang dalam berilmu. Semakin disebut sumber ilmu itu, maka Rahmat Allah akan turun setiap kali menyebut nama-nama orang saleh.

Semoga bermanfaat

 _Allahumma sholli wa sallim 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali wa ashabihi ajma'in_






Hubungi Kami

Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

Jl. Tinaloga No.5 Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Utara, Gorontalo

Telp: 0435-8591389 
Fax: 0435-831625

Email : surat@pta-gorontalo.go.id

Hak Cipta Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo © 2022