logo

Isra' Mi'raj

Ditulis oleh alifudin on .

Ditulis oleh alifudin on . Dilihat: 2344

Isra' Mi'raj

oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

    Setiap kali membaca dan membicarakan peristiwa ' amul huzni tidak bisa lepas dari peristiwa maha agung lainnya yang dialami nabi  SAW yaitu Isra' Mi'raj.

    Menurut Syekh Muhammad Khudori dalam Nur Al Yaqin fi Sirati Sayyidil Mursalin, menjelaskan adapun hal yang memicu terjadinya peristiwa Isra dan Mi’raj yaitu sebagai bentuk tasliyah (hiburan) yang Allah SWT berikan kepada kekasihnya (Nabi Muhammad SAW) karena ditinggal oleh dua orang yang dicintainya yaitu Khadijah sang istri dan Abu Thalib sang paman. Peristiwa ini tepatnya terjadi pada tahun ke-11 dari kenabian (Nabi Muhammad SAW saat itu berumur 51 tahun) atau biasa disebut dengan ‘amul huzn (tahun kesedihan).

    Kalau dikumpulkan seluruh hadis Isra Mi’raj (baik sahih maupun tidak), maka tidak cukup sehari-semalam untuk menceritakannya. Mulai dari perjalanan horizontalnya (ke Masjid Aqsha) sampai perjalanan vertikalnya (ke Sidratil Muntaha). Pengalaman dan pemandangan dari langit pertama hingga langit ketujuh dan sampai ke puncak Sidratil Muntaha.

    Isra mi`raj adalah dua peristiwa besar yang luar biasa, karena tidak ada seorang pun manusia yang dapat mengalaminya, kecuali hamba pilihan Allah SWT, yaitu Rasulullah Muhammad saw. Kata isra`, merupakan bentuk mashdar dari “asra` yusri isra-an” yang secara harfiah berarti “perjalanan di waktu malam”. Sedangkan kata mi`raj, bentuk isim alat dari ` _araja ya`ruju urujan” yang mengandung arti “tangga”_ . Ulama mendefinisikan isra sebagai peristiwa perjalanan Rasulullah saw di waktu malam dari Masjid al-Haram (Mekkah) sampai ke Masjid al-Aqsha (Yerusalem Palestina). Mi`raj ialah naiknya Rasulullah saw dari Masjid al-Aqsha ke Sidrat al-Muntaha melewati tujuh lapis langit.

    Rasio manusia terlalu kecil untuk menelaah peristiwa isra` dan mi`raj, sebab mengkomparasikan akal yang terbatas dan kekuasaan Allah SWT yang absolut tidaklah kompatibel. Dengan demikian, tinjauan keimanan (imaniyah) adalah alat ukur yang paling tepat dalam memahami peristiwa besar isra` dan mi`raj. QS al-Isra` ayat 1 menjelaskan:

“Maha Suci Dzat yang telah menjalankan hambanya (Muhammad) di waktu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha, yang Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya (Muhammad) sebagian dari bukti-bukti kebesaran Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

     Puncak dari perjalanan spiritual Rasulullah saw dalam isra` dan mi`raj adalah “perintah salat lima waktu”. Sebuah hadis riwayat Ahmad, al-Nasa-i, dan al-Tirmidzi menegaskan:

“Salat telah difardhukan kepada Nabi saw pada malam isra` lima puluh waktu, kemudian dikurangi menjadi lima waktu. Lalu diserulah, wahai Muhammad, sungguh putusan-Ku tidak dapat diubah lagi, dan dengan salat lima waktu ini, engkau tetap mendapat pahala lima puluh waktu.”

Perintah salat lima waktu diterima Rasulullah saw di langit, bukan di bumi seperti kewajiban-kewajiban lain (puasa Ramadhan, zakat, ibadah haji dan sebagainya). Langit menunjukkan posisi tempat yang berada di atas, apalagi Sidrah al-Muntaha berarti merujuk pada lokus tertinggi. Filosofinya, salat lima waktu merupakan sentral dari ibadah yang menjadi tolok ukur amal kaum muslimin. Karena itu, salat lima waktu wajib dijaga, tidak boleh ditinggalkan dan dilalaikan waktunya.

Perintah salat lima waktu diterima Rasulullah saw secara langsung tanpa perantaraan malaikat Jibril as. Ini mengilustrasikan bahwa salat merupakan komunikasi langsung (vertikal) antara hamba dengan Tuhannya, yang ditunaikan tanpa perantaraan seorang pun .

“Posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya (Allah SWT), yaitu ketika sedang sujud (salat). Maka perbanyaklah doa ketika itu” (Riwayat Muslim).

    Salat sebagai martabat paling sempurna dalam menghambakan diri kepada Allah SWT. Dengan salat, seorang hamba menyebut nama Tuhannya dengan menggunakan hati, lidah, dan seluruh anggota tubuh. Dalam salat, masing-masing anggota tubuh memperoleh bagian untuk menghambakan diri kepada sang Pencipta (Khaliq).

    Dari uraian mengenai isra` mi`raj, dapat disimpulkan bahwa kekuasaan Allah SWT begitu besar dan absolut. Ini menyadarkan akan keterbatasan akal dan ilmu manusia.

    Dirangkum dari beberapa sumber, ada beberapa hal yang perlu diketahui di dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut, di antaranya:

    Nabi Muhammad SAW naik ke atas langit dengan Ruh dan Badannya Nabi Muhammad SAW di perjalanan oleh Allah SWT hingga ke atas langit dengan Badan dan Ruhnya. Dan badan beliau masih tetap dalam bentuk aslinya, tidak berubah menjadi cahaya.

    Pemahaman Kewajiban Shalat.

Perayaan Isra Mi’raj maknanya adalah mengagungkan dan menghidupkan Sunnah Nabi Muhammad SAW karena perayaan Isra Mi’raj akan selalu mengangkat tema kisah Isra Mi’raj Nabi, dengan pembahasan panjang lebar dan ditekankan pada pemahaman kewajiban shalat.

    Nabi Muhammad SAW melihat Allah SWT dengan Mata Hatinya ketika Nabi Muhammad SAW di Mi’rajkan oleh Allah SWT, disebutkan bahwa beliau berbicara langsung dengan Allah SWT. Namun menurut jumhur ulama bahwa Nabi Muhammad SAW saat itu tidak melihat dengan mata kepala beliau, akan tetapi melihat Allah SWT dengan mata hati ya.

    Allah SWT Tidak Butuh Tempat. Nabi Muhammad SAW berbicara dengan Allah SWT di atas Mustawa. Namun jangan berangan-angan bahwa Allah SWT ada di atas langit. Maka yang perlu diketahui bahwa atas Mustawa bukan tempat Allah SWT, melainkan tempat Nabi Muhammad SAW.

    Nabi Muhammad SAW bertemu para Nabi dan Rasul. Nabi Muhammad SAW dalam keadaan hidup bertemu dengan para Nabi dan Rasul yang telah meninggal dunia dan berbincang. Itu adalah mukjizat dan yang dipahami para ulama bahwa orang yang hidup saat ini bisa saja bertemu dengan Nabi Muhammad SAW sebagai karomah yang diberikan oleh Allah SWT. Meski peristiwa Isra Mi’raj ini mungkin tidak terfikir oleh nalar manusia biasa wajib diimani oleh kaum muslim.

    Perjalanan singkat itu berhasil merekam berbagai pemandangan spiritual bagi Rasulullah SAW, dan hendaknya bisa dijadikan pelajaran dan hikmah bagi umat. Sebab, perjalanan malam hari itu, telah membangkitkan semangat baru Rasulullah dalam menyebarkan dakwah Islam.

    Tafau'lan syafa'at Nabi, di bulan Rabiul Awal ini, kita tutup dengan membaca sholawat, Allahumma sholli wa sallim wa barik 'ala sayyidina Muhammad, wa 'ala alihi washahbihi ajma'in.

Hubungi Kami

Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

Jl. Tinaloga No.5 Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Utara, Gorontalo

Telp: 0435-8591389 
Fax: 0435-831625

Email : surat@pta-gorontalo.go.id

Hak Cipta Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo © 2022