Kegiatan Rutin Kultum Ba’da Shalat Ashar di Masjid Al - Hikmah PTA Gorontalo Penyampaian Kultum oleh Drs. H. Mochamad Chamim, M.H.
Kegiatan Rutin Kultum Ba’da Shalat Ashar di Masjid Al - Hikmah PTA Gorontalo

Gorontalo - Selasa, (5/12/2023) PTA Gorontalo mengadakan Kultum yang rutin dilakukan setiap selasa sore ba’da jamaah sholat ashar yang bertempat di Masjid Al-Hikmah PTA Gorontalo dengan penyampaian kultum oleh Hakim Tinggi Bapak Drs. H. Mochamad Chamim, M.H.
Tema pada kultum hari ini tentang “Sebatang Pensil dan Kehidupan”. Melihat Dunia dalam Sebatang Pensil: Apa Maknanya? Apa jadinya kalau pensil menjadi cerminan dari dunia ini? Kegunaan dasar pensil: menulis dan menggambar. Aktivitas ini mewakili bagian esensial dari kehidupan manusia, yaitu ekspresi dan komunikasi. Pensil adalah alat, dan alat itu tak memiliki arti sampai kita memutuskan untuk menggunakannya.
Menggoreskan pensil ke kertas, menciptakan serangkaian simbol dan gambar yang memiliki makna, sama seperti manusia yang menciptakan makna dalam hidupnya. Tindakan menulis dan menggambar merupakan simbolisasi dari tindakan manusia dalam menciptakan narasi dan naratif dalam hidupnya. Ketika goresan pensil menghasilkan kalimat, paragraf, gambar, dan sketsa, inilah yang disebut dengan proses penciptaan makna.
Saat pensil menghasilkan gambar, sejatinya adalah refleksi dari imajinasi, pikiran, dan perasaan seseorang. Mirip dengan dunia yang kita ciptakan dalam pikiran kita. Setiap gambaran yang tercipta dari goresan pensil adalah representasi dari apa yang ada di dalam diri seseorang, sama halnya dengan dunia yang kita lihat adalah hasil interpretasi dari apa yang kita rasakan dan pikirkan.
Pensil dan Siklus Kehidupan
Tak hanya itu, pensil juga bisa merepresentasikan siklus kehidupan. Lihatlah cara pensil dipertajam, digunakan, pudar, dan akhirnya dipertajam lagi. Hal ini mengingatkan kita pada siklus kehidupan, bagaimana kita tumbuh, berkembang, mengalami penurunan, dan akhirnya bangkit kembali. Proses ini, walau kadang menyakitkan, sangat penting untuk pembentukan diri dan karakter.
Pensil yang sering dipertajam menjadi tajam dan berguna, sama seperti individu yang sering menghadapi tantangan dalam hidupnya. Rasa sakit dan ketidaknyamanan yang dialami seiring waktu membentuk dan mempertajam karakter, membuat individu menjadi lebih kuat dan berkarakter. Pensil yang tidak pernah dipertajam akan selalu tumpul dan tidak dapat digunakan dengan baik.
Mengingat kembali ke proses menulis dan menggambar dengan pensil, seringkali hasil goresannya tidak sempurna dan kita perlu menghapusnya. Proses ini sangat mirip dengan kehidupan, dimana kita sering melakukan kesalahan dan harus belajar dari kesalahan tersebut. Menghapus kesalahan dengan penghapus di ujung pensil mengingatkan kita pada pentingnya belajar dari kesalahan dan terus bergerak maju.
Bagaimana agar pensil berguna? Tentunya harus diserut, harus ditajamkan. Agar berguna, tentunya penajaman ulang akan terus dilakukan lagi dan lagi. Dari waktu ke waktu sampai masanya habis. Seandainya pensil ini bisa merasakan, kita bisa membayangkan betapa menyakitkannya proses yang dilalui oleh pensil melalui penajaman ulang, agar ia bisa berguna. Kalau seandainya pensil ini dengan proses penajamannya kita analogikan ke dalam kehidupan kita, maka hal yang sama akan terjadi pada diri kita. Untuk membuat diri kita berguna, maka kita harus melalui proses penajaman ulang mau tidak mau, suka atau tidak suka. Proses penajaman itu yang akan kita lalui bisa jadi merupakan hal yang sangat membosankan, bisa jadi merupakan hal yang sangat melelahkan, dan bisa jadi sangat menyakitkan.
Apa saja itu yang ada pada diri kita yang perlu melalui proses penajaman? Ada 4 hal: 1). Fisik, 2). Otak 3). Jiwa 4). Mental.
1). Fisik: harus dijaga kesehatannya. Perhatikan asupan makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita. Jangan asal jajan. Boleh sekali-kali jajan diluar yang sehat2, tapi pastikan jangan terlalu sering. Jika sering memberi asupan makanan minuman merusak kondisi kesehatan, berarti dzolim. Karena tubuh yang sering sakit, tubuh yang kondisinya tidak terjaga kesehatannya berarti tidak berguna malah akan merugikan. Begitu banyak pekerjaan yang akan terbengkalai karena ditunda alasan sakit. Pastikan fisik kita berguna.
2).Otak: otak kita harus ditingkatkan kualitasnya melalui proses penajaman belajar dengan sungguh-sungguh. Jika kita tidak bisa menerangkan tugas kita masing-masing karena tidak mau belajar tupoksinya, karena otak tidak dilatih. Jangan sampai hal yang sederhana saja yang bisa dilaksanakan sendiri karena tidak mau membaca, sehingga menyulitkan orang lain. Bahkan otak yang kita punya tidak berguna kalau tidak ditingkatkan melalui belajar, latihan, literasi. Dengan otak yang selalu ditingkatkan kualitasnya, kita akan mudah atau tidak mengalami kesulitan disaat mengalami permasalahan hidup. Akan lebih mudah lagi untuk menemukan solusi terbaik karena otaknya selalu di upgrade. Ingat, Otak yang sama kondisinya tidak akan bisa memberikan solusi disaat masalah muncul. Artinya apa, otak kita kondisinya harus ditingkatkan kualitasnya, bila kita mau mencari atau menemukan solusi terbaik, jangan sama kondisinya. Disaat ada masalah, kondisi otak harus kita tingkatkan gradenya, barulah bisa menemukan solusi.
3). Jiwa: jiwa perlu ditingkatkan kesehatannya, Caranya: tingkatkan hubungan vertical dengan Allah, tingkatkan hubungan horizontal dengan sesama, tingkatkan ibadah kepada Allah dengan berniat lurus mencapai ridho Allah untuk mendapatkan cintanya Allah. Begitupun hubungan horizontal, kita harus menunjukkan respect, cinta dan kasih kepada sesama. Kalau orang yang sehat jiwanya, bisa memperlakukan orang dengan penuh rasa hormat,menghargai, respect. Tapi kalau orang yang sakit jiwanya, pasti bawaannya mulutnya jahat, ketus, perilaku tidak menyenangkan.
4). Mental.
Memiliki mental yang kuat akan membantu lebih mudah mencapai target kehidupan. Diantara manfaatnya: memiliki kepuasan hidup lebih besar, meningkatkan performa dalam menjalani aktivitas, dan lebih tahan terhadap berbagai tantangan hidup.
Mengapa kita perlu menjaga kesehatan mental?
Dalam setiap tahap kehidupan, kesehatan mental penting untuk terus dijaga, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Menjaga kesehatan mental sangat penting untuk menstabilkan perilaku, emosi, dan pikiran. Diantara manfaat menjaga kesehatan mental: Memperbaiki suasana hati. Mengurangi kecemasan.
Iktibar Dari Sebatang Pensil
Kehidupan manusia, ada jangka waktunya. Allah beri nikmat hidup untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ibarat sebatang pensil, banyak perkara dan manfaat kita peroleh dari sebatang pensil.
Pertama, pensil itu mengingatkan: kita boleh membuat sesuatu yang hebat/ melakukan hal besar dalam hidup ini. Tetapi jangan lupa, ibarat pensil, ada tangan yang memegangnya/ membimbingnya. Maka ingatlah, akan adanya kuasa yang membimbing langkah hidup kita, yaitu Allah s.w.t. Allah akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya.
Kedua, ketika menulis, pensil akan kerap menjadi tumpul. Kita terpaksa berhenti untuk mengasahnya. Pensil itu pasti menderita ketika diraut, tetapi hasilnya ia menjadi tajam dan jelas tulisannya. Begitu juga akan berlaku dalam kehidupan kita. Kita mesti berani menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, menempuh kesusahan karena ia menjadi baja atau pendorong untuk diri kita menjadi lebih baik.
Ketiga, pensil itu mungkin menghasilkan tulisan yang salah. Namun, kita boleh membetulkan tulisan ini semula. Begitulah manusia, senantiasalah memperbaiki kesalahan dalam hidup. Ia bukanlah sesuatu yang hina karena dengan memperbaiki kelemahan, kita akan senantiasa berusaha berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.
Keempat, tahukah kita yang mana lebih penting. Antara luar dan dalam pensil? Sudah tentu arang atau karbon di dalamnya (bahan grafit). Sebagaimana adanya sekeping hati dalam diri manusia. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan apa yang tidak baik dalam diri kita dan hindarilah karena ia membentuk kita di luarnya.Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam diri kita
Kelima, pensil ini selalu meninggalkan tanda atau goresan/ selalu meninggalkan bekas apabila menulis. Begitu juga kita, apa saja yang kita buat pasti akan meninggalkan kesan/ bekas pada diri kita atau pada orang lain. Maka berhati-hatilah sebelum bertindak/ berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.
