Mengenal Diri

Ditulis oleh Sabri on .

Ditulis oleh Sabri on . Dilihat: 1859

Mengenal Diri

oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo     

 

             Setelah memaparkan tentang menata hati, penulis tergoda untuk sedikit berselancar dengan topik sebagaimana judul di atas. Pada tulisan sebelumnya menyinggung QS Luqman ayat 20, yang mengatakan manusia itu terdiri dari dua unsur _dhahir_ dan _bathin_. Menjadi ketertarikan sendiri untuk memahami unsur _bathin_ pada manusia. Dalam unsur batin manusia itu ada apa, jawabannya dalam diri manusia ada _ruh_, _nafsu_, akal (_aql_) dan hati (_qalb_). Oleh karena itu kita dituntut untuk mengenal diri kita, sebab jika kita tidak mengenal diri kita pasti kita tidak akan mengenal Tuhan. 

          Ada baiknya kita menghitung umur kita, sudah kepala berapa usia kita sekarang, di antara pembaca ada yang berkepala 2, 3, 4, 5, 6 atau bahkan kepala 7. Coba kita tanya pada diri kita masing-masing, benarkah kita sudah mengenal Allah, apakah kita sudah mengenal Allah? Padahal sudah 20, 30, 40, 50, 60 atau 70 tahunan usia kita, tapi kita belum mengenal Allah. Itulah sebabnya dalam QS. Al Asr ayat 2-3, dikatakan, "Bahwa sesungguhnya manusia itu dalam keadaan rugi, kecuali bagi orang-orang yang beriman". Di kalangan ahli _tasauf_ arti _iman_ di sini adalah mengenal (_ma'rifat_) Allah. Pertanyaan berikutnya, bagaimana amal ibadah kita yang kita laksanakan berpuluh tahun tapi diri kita tidak mengenal Tuhannya. Silakan kita menjawab masing-masing pertanyaan tersebut. 

          Kita yang sudah _baligh_ maka wajib hukumnya untuk mencari dan memperdalam ilmu mengenal diri, jika kita tidak menekuni maka akan sia-sia hidup kita. Allah berfirman QS Al Isra: 85, artinya "Tidak Aku berikan sebagian ilmu (tentang _ruh_) kepadamu sekalian kecuali hanya sedikit". Hanya sedikit orang yang dikaruniai ilmu tentang _ruh_ (diri). Kita harus mencari ilmu itu dan harus melalui guru. Sebab jika tidak melalui bimbingan guru dikhawatirkan akan tersesat. 

          Antara jasmani(lahir) dan ruhani(batin) keduanya harus menyatu, tidak mungkin dipisahkan, apabila salah satunya berpisah, tubuh tanpa ruh maka tidak akan hidup, ruh tanpa tubuh tidak akan kelihatan. Sebagai perumpamaan, komputer ada _hardware_ komponen fisik dan _software_ data digital yang tidak terlihat secara fisik. Hardware tanpa sortware tidak akan berfungsi sebaliknya software tanpa didukung hardware tidak bisa beroperasi.

          Sekarang mari kita mencoba mengenali diri kita dengan memahami tentang ruh, hati, akal dan nafsu. Pertama _ruh_, di paragraf sebelumnya kita telah singgung tentang ruh. Firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Isra ayat 85, artinya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". 

          Dalam kitab _sirrul asror_ karya Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dikemukakan sebagai berikut, makhluk yg pertama kali diciptakan oleh Allah Ta’ala adalah ruh, ruh siapa? ruh Muhammad Saw. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam hadits qudsi: “Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya-Ku”. Ruh adalah hakikat Muhammad dan hakikat Muhammad disebut _nur_. Kenapa disebut nur? karena bersih dari segala kegelapan. 

          Ruh Muhammad adalah ruh termurni sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.: “aku dari Allah dan makhluk lain dari aku”. Setelah diwujudkan jasad itu maka Allah menitipkan ruh dari-Nya ke dalam jasad, dan sebagai barang titipan Allah akan mengambil kembali titipannya itu. Ketahuilah ruh itu memiliki perjanjian awal di negeri asalnya yaitu alam _lahut_ dan isi perjanjiannya adalah ketika Allah bertanya kepada semua ruh:

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari _sulbi_ mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yg demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yg lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). (QS. Al-A’raf: 172) Tapi sayang banyak ruh yg lupa dengan perjanjian awalnya terhadap Allah Ta’ala, sehingga mereka terlena dan terlalu nyaman tinggal di dalam jasad sebagai tempat terendah bagi mereka.

          Kedua, hati (_qalb_) kata qalb sudah diambil menjadi kalbu dalam bahasa Indonesia. _Qalb_ pada dasarnya memiliki makna ganda. Ada makna secara _syar'iah_ dan _hakikiyah_. Secara syariah qalb diartikan sebagai segumpal daging yg mana baik buruknya akan memberi dampak besar terhadap jasad seseorang. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw.

artinya; "Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah qolbu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

           Sementara makna secara hakikiyah, qalb adalah sebuah organ yg bersifat _sir_ (tidak berwujud), namun ketika seseorang tersebut melakukan sebuah kemaksiatan, maka akan muncul bercak hitam yg lama kelamaan akan mengeraskan qalb. Menurut tasawuf, qalb diartikan pula sebagai sebuah _lathifah_ titik sensor dimensi ketuhanan yg tidak mempunyai bentuk fisik sebagaimana dipahami oleh sebagian kita.

         Ketiga akal, ketahuilah, bahwa akal bukanlah otak, jadi letak keberadaannya bukan di kepala. Keberadaan akal tidaklah berbentuk secara fisik sehingga tidak dapat dilihat oleh mata kepala ini. Tapi meskipun demikian, fungsi dan gerakannya dapat dirasakan.

         Sulit untuk yakin dan beriman dengan menggunakan otak kita ini, otak ini selalu menuntut bukti nyata, alasan dan sebab yg benar menurutnya. Dengan selalu menggunakan otak dan menuntut segala sesuatunya harus rasional akhirnya kita tidak bisa beriman secara betul-betul, akan tetapi malah bermain-main dalam keimanan. Seperti dalam melaksanakan sholat, perhatikanlah firman Allah berikut: "Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sholat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yg demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yg tidak mau mempergunakan akal. (QS. Al-Maidah: 58)

Akal adalah alat untuk berfikir dan memahami ayat-ayat Allah baik yg _kauniyah_ maupun _kauliyah_. Tapi berfikir dengan akal tidak seperti berfikir dengan otak, berfikir dengan akal itu akan berujung dengan satu kesimpulan:

"Tidak ada sesuatu apapun yg Allah telah ciptakan itu sia-sia".

Apabila seseorang telah mempergunakan akalnya dalam berfikir dengan baik dan benar maka keimanannya akan semakin mantap dan terus meningkat.

           Keempat nafsu, 

nafsu adalah elemen jiwa (unsur ruh) yg berpotensi mendorong pada _tabi’at badaniyah_ biologis dan mengajak diri pada berbagai amal baik atau buruk. Nafsu itu pula adalah ruh sebagaimana dimaksud dalam firman Allah surah At-Takwir ayat 7: "Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)". Nafsu di dalam ayat ini diartikan ruh. Adapun nafsu memiliki tingkatan-tingkatan. Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yg dikenal dengan istilah “ _marotibun nafsi_ ” yaitu terdiri dari, _nafsu amarah_, tempatnya adalah “ _ash-shodru_ ” artinya dada. Nafsu _lawwamah_, tempatnya adalah “ _al-qalb_ ” artinya hati. Nafsu _mulhimah_, tempatnya adalah “ _Ar-ruh_”.

Nafsu _muthma’innah_  tempatnya adalah “ _As-Sirr_ ” artinya rahasia. Nafsu _radhiyah_ tempatnya adalah “ _Sir Assir_” artinya sangat rahasia. 

Nafsu _mardhiyah_ 

tempatnya adalah “ _Al-khofiy_ ” artinya samar. Yang ketujuh nafsu _kamilah_, tempatnya adalah “ _Al-Akhfa_ ” artinya sangat samar. Di sinilah tempatnya _ilmul yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin_ .

            Dari semua  keterangan di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan atau garis besarnya. Yaitu pada hakikatnya Ruh, Qalb, Akal dan Nafsu adalah satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Bahkan Imam Al-Ghazali ra. mengatakan dalam kitabnya bahwa qalbu, ruh, akal dan nafsu itu adalah satu, (_syai’un wahidun_). Tidak memiliki perbedaan, semuanya merupakan hal yang sama. Sehingga jelas bahwa keempat nama tersebut pada dasarnya adalah satu hal yang sama, memiliki fungsi dan tugas yg sama. Tinggal bagaimana kita membina, menuntun keempat hal ini agar betul-betul mampu mengantarkan kita lebih dekat dengan Allah ta’ala dan mampu mengantarkan kita mencapai tujuan kita yaitu bertemu dengan-Nya. Tulisan ini hanya catatan kecil,  menyingkap cakrawala kita dalam mengenal diri.

 _Wallahu a’lam bishowab_ 

 _Allahumma sholli wa sallim 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sohbihi ajma'in_