Ummi

Ditulis oleh alifudin on .

Ditulis oleh alifudin on . Dilihat: 1562

Ummi

oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo

    Sering kita mendengar lantunan sholawat yang kalimatnya dirangkai dengan kata ummi  seperti anbabiyil ummy  Nabi yang ummi, arrasulil ummy  rasul yang ummi atau sayyidil ummy penghulu yang ummi.

    Kata “ al-ummi ” sangat populer di kalangan umat Islam termasuk di Indonesia. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad SAW disebut “al-ummi” sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 157 ( alladziina yattabiuuna ar rasula an nabiyya al ummiya ) dan Ayat 158 ( fa aaminuu billaahi  wa rusulihi wa nabiyyil ummyyi ) . Secara etimologis kata “al-ummi” berasal dari kata bahasa Arab “ al-umm ” yang artinya “ibu” dalam bahasa Indonesia. 

    Mayoritas tokoh besar di dunia memiliki keuntungan karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban, negeri-negeri yang sangat berbudaya atau penting di sisi politik. Sebaliknya, Nabi Muhammad SAW, dilahirkan pada 570 M di kota Makkah, di sebelah selatan Arabia, yang pada masa itu merupakan sebuah wilayah terbelakang di dunia, jauh dari pusat-pusat perdagangan, seni dan ilmu pengetahuan.

Yatim piatu sejak berusia 6 tahun, beliau dibesarkan dalam lingkungan bersahaja. Tradisi Islam berkisah bahwa tidak dapat membaca dan menulis.

    Sangat sulit untuk membayangkan manusia biasa terlahir dalam keadaan demikian bisa menjadi pemimpin dunia, terlebih beliau dilengkapi peradaban jahiliyah.

    Kita mendapati retorika bahwa beliau seorang yang ummi  dan merupakan kesalahan besar untuk mempercayai bahwa Nabi Muhammad SAW pandai membaca dan menulis karena tidak ada bukti empiris tentang hal ini. Dalam Al-Qur’an surah Al’Ankabut ditegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca kitab apa pun atau menulisnya sebelum Al-Qur’an diturunkan sebagaimana bunyi ayat 48 berikut ini:

 Wa maa kunta tatluu min qablihi min kitaabin wa laa takhutthuhu bi yamiinika idzann lartaba al mubtiluun

“Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab pun sebelum adanya Al-Qur’an dan engkau tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscara ragu orang-orang yang mengingkarinya.”

    Ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca dan menulis sesuatu apa pun sebelum turunnya Al-Qur’an. Tetapi setelah Al-Qur’an turun Nabi Muhammad SAW pernah suatu ketika menulis kata-kata sebagaimna tertuang dalam teks.

    Dari sini kita menarik benang merah, ada rahasia yang tersimpan atau kita katakan hikmah di balik fakta bahwa Nabi Muhammad tidak pernah membaca dan menulis adalah bahwa hal itu merupakan bukti yang menegaskan bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah SWT dan bukan karya beliau. Semua pengetahuan yang diperoleh Nabi Muhammad adalah intuisi (wahyu) dari Allah yang tidak menuntut kemampuan membaca dan menulis. Malaikat Jibril paling sering menyampiakan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW dengan metode pendengaran dengan mentransfer ayat-ayat Al-Qur’an secara langsung ke dalam memori Nabi Muhammad SAW melalui pendengaran dan hati beliau tanpa melibatkan kegiatan visual seperti membaca dan menulis.

    Berdasarkan pada fakta-fakta di atas, beberapa cendekia kontemporer kurang setuju jika hingga sekarang kata “al-ummi” yang melekat pada Nabi Muhammad SAW masih diartikan”buta huruf’. Sebagai gantinya mereka mengusulkan arti atau makna yang lebih sesuai dengan konteks sekarang, yakni “ tidak bisa baca tulis” karena memang tidak pernah diajar guru manusia dengan metode baca tulis. Arti baru ini sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Kamus Al-Munawwir Arab - Indonesia , karangan Ahmad Warson Munawwir, di mana kata “al-ummi” diartikan “ Yang tak dapat membaca dan menulis” dan bukan “buta huruf”.

    Betapa dengan keadaan Nabi yang ummi menambah keagungan beliau sebagai rasul dan nabi dan menasbihkan bahwa beliau adalah mutlak sebagai seorang hamba.

   Sungguh masih terngiang di telinga saat masih kecil, sambil menunggu sholat jamaah di surau melantunkan sholawat al ummi. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad, abdika, wa rasulika, wa nabiyyika sayyidil ummiyyi

Ya Allah limpahkanlah anugerah rahmat atas penghulu kita Muhammad, hambamu,  rasulmu dan nabimu, penghulu yang ummi.