Sederhana
Sederhana
oleh Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.
Ketua Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo
Tiga atau empat hari ini atau bahkan lebih, pemberitaan media cetak dan elektronik juga dunia medsos disibukkan dengan berita kedatangan Paus Fransiscus di bumi Indonesia.
Mengapa ke Indonesia tentu ada alasan yang khusus kenapa memilih Indonesia (Asia Tenggara yang pertama), salah satu alasan adalah negara kita memiliki falsafah Bhinneka Tunggal Ika, keberagaman, satu falsafah yang dianut oleh leluhur bangsa bahwa kita hidup dalam perbedaan. Berbeda adalah keniscayaan dan sunatullah .
Menarik untuk memetik kunjungan beliau keIndonesia terlebih saat kehadiran dan keberadaannya selama di negara kita.
Yang pertama kedatangannya menggunakan pesawat komersial biasa, dengan maskapai penerbangan Air Italia tidak dengan pesawat jet khusus, kedua selama perjalanan darat dari Cengkareng ke kantor Kedutaan di Medan Merdeka Timur, hanya dengan mobil MPV ( multi purpose vehicle ) biasa kijang, kendaraan yang banyak dipakai warga dan yang ketiga beliau tidak menginap di hotel berbintang lima termahal tetapi lebih memilih beristirahat di rumah Duta Besar Vatkan di komplek kantor Kedutaan Besar Vatikan di Medan Merdeka Timur. Beliau selama perjalanan juga membuka jendela mobil dengan tangan menjuntai keluar sambil menyapa masyarakat yang menyambutnya.
Apa yang dapat kita petik hikmah dari kunjungan tersebut. Jawabannya adalah "sederhana" ya sederha, kata yang mudah diucapkan tapi sulit diamalkan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ), arti kata sederhana adalah bersahaja; tidak berlebih-lebihan: sedang (dalam arti pertengahan, tidak tinggi, tidak rendah, dan sebagainya): tidak banyak seluk-beluknya (kesulitan dan sebagainya); tidak banyak pernik; lugas.
Sedangkan dikutip dari buku Pendidikan Anti Korupsi di Sekolah, Wibowo A. (2013: 46), sederhana adalah bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluk, tidak banyak pernik, lugas, dan apa adanya, hemat sesuai kebutuhan walau memiliki banyak harta, dan rendah hati.
Sedangkan dikutip dari buku Pendidikan Anti Korupsi di Sekolah, Wibowo A. (2013: 46), sederhana adalah bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluk, tidak banyak pernik, lugas, dan apa adanya, hemat sesuai kebutuhan walau memiliki banyak harta, dan rendah hati.
Di tengah kelimpahan, kita sering kali lupa akan nilai sebenarnya dari kehidupan sederhana.
Hidup sederhana bukanlah tentang kemiskinan atau kekurangan, tetapi tentang memprioritaskan kebutuhan yang benar-benar penting dan menghargai apa yang sudah kita miliki. Ini adalah tentang menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan, daripada mencari kepuasan dalam kepemilikan material.
Tentu saja, mengadopsi gaya hidup sederhana bukanlah hal yang mudah dalam masyarakat yang terus mendorong konsumsi berlebihan. Namun, itu bukanlah alasan untuk menyerah. Sebaliknya, ini adalah panggilan untuk mengubah cara kita berpikir dan bertindak. Ini adalah tantangan untuk hidup lebih sadar dan bertanggung jawab terhadap planet kita dan generasi mendatang.
Perilaku sederhana ternyata menjadi sebuah tantangan karena di sana ada " pengekangan" untuk tidak hidup bermewah-mewahan, sebuah cara bertindak yang banyak diidamkan orang kebanyakan.
Salah satu langkah untuk hidup sederhana terencana adalah dengan meminimalisir konsumsi. Hindari godaan untuk membeli barang-barang yang tidak perlu dan barang mewah serta fokus pada kebutuhan yang esensial.
Akhirnya dalam hidup sederhana, kita menemukan kebebasan. Kita membebaskan diri dari tekanan konsumsi dan menciptakan ruang bagi kebahagiaan yang lebih dalam dan berkelanjutan. Kita memperkuat hubungan kita dengan alam dan lingkungan sekitar kita, dan kita menemukan arti sejati dari kekayaan. Jadi, di tengah kelimpahan (sumber daya apapun), mari kita memilih untuk hidup sederhana - pilihan yang bijak bagi kita dan bumi kita.